Beranda > Artikel > Kenakalan Anak Bukan Kriminalitas

Kenakalan Anak Bukan Kriminalitas


Oleh SITTA R MUSLIMAH

Hukum di negeri kita seolah diberlakukan secara tidak adil dan tidak tepat sasaran. Banyak kasus ketidakadilan hukum menimpa kaum lemah, warga terpinggir, bahkan anak-anak usia dini. Kasus anak-anak nakal yang berkelahi, berjudi, dan menjambret diponis bersalah kendati baru berusia 9 tahun. Beberapa bulan ke belakang negeri ini dihebohkan kasus beberapa anak siswa SD yang mengisi waktu luang dengan melakukan taruhan dengan jumlah yang tak seberapa.

Bahkan, dua bulan yang lalu, anak berusia 9 tahun diponis bersalah karena didakwa telah melakukan penganiayaan pada seorang anak yang kebetulan putra dari seorang anggota kepolisian. Dengan dalih penyiksaan dan penganiayaan, sang anak mendapatkan cap ”kriminalis” karena terbukti melanggar Undang-Undang dan mengikuti persidangan yang seharusnya digunakan untuk kalangan orang dewasa. Pertanyaannya, kenapa hukum tak mengenal batas usia? Apakah betul dengan menghukum anak dan mengikutkan mereka pada sebuah persidangan menjadi solusi efektif menanggulangi kenakalan anak-anak?

Kenakalan wajar

Dalam doktrin ajaran Islam, hukum tak berlaku bagi seorang anak yang belum baligh. Mereka bakal dianggap sebagai anak kecil yang belum mengetahui apa-apa ketika melakukan perbuatan makar. Perkelahian dan saling pukul-memukul di antara mereka merupakan kenakalan yang masih wajar.

Pendekatan yang dilakukan dalam mengubah sikap, sifat dan perilaku tak terpuji mereka adalah dengan pendekatan psikologis. Bukan dengan jalan menjerat mereka dan menempatkannya di penjara. Sebab, ketika mereka sejak kecil sudah mendapat cap ”kriminal” dari lingkungan luar, tentu saja berpengaruh bagi perkembangan karakteristik kejiwaan di masa mendatang. Si anak yang dicap bersalah oleh pengadilan, akan terisolasi dan diisolasi. Bahkan mengisolasi diri karena malu dirinya mendapat cap kriminal. Sisi kejiwaan mereka akan sedemikian terpuruk karena cap tak sedap dari lingkungan luar tersebut. Seorang anak ketika semenjak kecil dicap sebagai anak yang nakal dan kriminal ketika dewasa akan menempatkan dirinya sebagai orang dewasa yang nakal dan kriminalis.

Menjerat anak-anak usia dini dengan perangkat hukum (kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan negeri) sejatinya tidak dilakukan di negeri ini. Anak-anak seperti halnya warga negara lain, memiliki hak asasi untuk mengembangkan kepribadiannya ke arah yang lebih positif. Ketika kenakalan anak-anak disikapi secara reaktif tanpa melakukan upaya penanggulangan psikologis, tentunya akan melahirkan aneka problema di masa mendatang.

Dalam teori psikologi behavioristik, bentuk kepribadian orang dewasa ditentukan pola pendidikan dan perlakuan padanya saat masa kanak-kanak berlangsung dalam hidupnya. Perlakuan keras, diskriminatif, dan mencap negatif akan membuat anak merasa tersingkir dari dunianya. Alhasil, ia tumbuh dalam suasana yang dipenuhi ketakutan, kecurigaan, kebengalan, dan ingin membalas perlakuan yang diperolehnya ketika masih kecil.

Dongeng kasih sayang

Andi Yudha Asfandiar, dalam buku ”Cara Pintar Mendongeng” (2009) untuk menanamkan nilai kebaikan pada anak-anak bukan dilakukan dengan cara yang keras. Akan tetapi sejatinya dilakukan dengan penuh kasih sayang. Cara yang paling banyak disenangi anak-anak salah satunya adalah dengan mendengarkan dongeng atau cerita. Karakteristik sang anak akan terbentuk positif kalau orang tua atau guru dapat menceritakan kisah yang menarik dan sarat nilai kepada anak-anak. Sehingga posisi orang tua atau guru menjadi aktif melakukan pendidikan nilai yang dirasakan mereka “tidak menggurui” dan memerintah.

Ketika sang anak semenjak kecil banyak mendengarkan kisah, dongeng, dan cerita yang sarat keteladanan, tentunya akan terbentuk secara bertahap nilai-nilai kebaikan pada diri mereka. Oleh karena itu, menurut kang Andi Yudha, orang tua atau guru mesti memiliki kemampuan dalam mengemas sebuah cerita atau dongeng sehingga menarik minat perhatian sang anak. Dalam buku di atas (Cara Pintar Mendongeng) , dipaparkan panduan praktis bagi orang tua dan guru, langkah-langkah berlatih piawai mendongengkan kisah kepada anak-anak. Dengan penanaman nilai pada kehidupan anak-anak, tentunya akan membentuk karakteristik kepribadian mereka menjadi lebih baik.

Akhirul kalam, daripada menanggulangi kenakalan anak-anak dengan menggunakan perangkat hukum, lebih bijaksana kalau kita melakukan upaya pencegahan (preventif). Selain biayanya yang murah, pencegahan juga – salah satunya dengan pendekatan psikologis – dinilai lebih efektif dan efisien ketimbang membawa mereka duduk di depan jaksa dan hakim. Bukan menakuti mereka. Tetapi, memberikan perhatian dan kasih sayang agar mereka dapat tumbuh dan berkembang secara positif di masa depan. Wallahua’lam

Kategori:Artikel
  1. September 19, 2010 pukul 1:51 pm

    Assalamu’alaikum wr wb.
    salam kenal. saya sedang mengawali perjalanan sekolah untuk anak penyandang autis di Kota Sukabumi. Namanya: Rumah Autis Yistika Melati. Trima kasih atas tulisan-tulisan yang telah dibuat. akan sangat bermanfaat sekali bagi pemerhati & orang tua anak brkebutuhan khusus. semoga tetap istiqomah & sukses.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: