Beranda > Artikel > Partisipasi Keluarga untuk Anak Autistik

Partisipasi Keluarga untuk Anak Autistik


Oleh SITTA R MUSLIMAH

Kehadiran anak autistik di dalam keluarga menyebabkan perubahan yang cukup besar dalam berbagai aspek kehidupan. Orang tua harus memberikan perhatian yang jauh lebih besar kepadanya secara spesial. Interaksi dan disiplin yang diterapkan harus disesuaikan dengan karakter anak autistik. Dalam kehidupan sehari-hari saudara sekandung mestinya menyesuaikan diri dengan adik/kakaknya yang autis seperti interaksi, komunikasi, kegiatan rekreasi, makanan yang dikonsumsi, dan sebagainya.

Tingkat orang tua dalam penerimaan dan pola penanganan anak dengan problematika autisme sangat dipengaruhi tingkat kestabilan dan kematangan emosinya. Pendidikan, status sosial ekonomi, besaran anggota keluarga, struktur dalam keluarga dan kultur juga sangat melatarbelakanginya. Penerimaan orang tua sangat beragam terhadap kondisi anak dengan gangguan autisme ini.

Semakin tinggi tingkat penolakan, semakin lama rentang waktu reorganisasi yang dapat dilakukan orang tua dalam intervensi yang dilakukan terhadap anak. Semakin sedikit kesenjangan dan keragaman permasalahan dalam keluarga akan dapat membantu intensitas intervensi yang lebih optimal. Dinamika yang terjadi dalam keluarga sangat berpengaruh ketika menangani anak autistik.

Dalam kondisi itu orang tua memiliki peranan penting untuk mengelola keadaan keluarga secara total. Sebab, persamaan persepsi, kondisi saling memotivasi di antara pasangan akan sangat menentukan optimalitas penanganan anak. Tentu hal ini merupakan kondisi ideal yang hendaknya bisa diciptakan dalam lingkungan keluarga.

Memperkecil kesenjangan

Hal utama yang menjadi upaya dalam penanganan dan pendampingan anak dengan masalah autisme dari keluarga juga adalah memberikan bantuan untuk memperkecil kemungkinan timbulnya kesenjangan yang ada dalam tuntutan perkembangnya. Oleh karena itu, Endang Retno dalam makalah berjudul Penanganan Orang Tua Terhadap Kondisi Anak Autisme (2003) menerangkan tahapan penting yang harus dipersiapkan oleh orang tua, yaitu:

Pertama, pengenalan anak secara menyeluruh adalah tahap awal bagi orang tua untuk dapat melihat potret sesungguhnya anak. Dengan demikian kita dapat memahami potensi positif dan kelemahan yang dimiliki anak, baik dari reaksi emosional, pola regulasi, rutinitas kegiatan, pola perilaku dan pola interaksi.

Kedua, memiliki keterbukaan dalam mempersiapkan pola dukungan bagi anak. Hal ini terkait dengan pihak praktisi atau ahli, lingkungan sekolah maupun persiapan internal keluarga.

Ketiga, mempersiapkan program bersama pihak terkait dengan memiliki pemahaman dalam melaksanakan program secara terpadu.

Maka, hal terpenting yang harus diberikan orang tua kepada anak autisme bukan hanya pendidikan atau usaha mengatasi perilaku mereka, melainkan hubungan yang dilandasi dengan kasih sayang dan penerimaan yang tulus. Meskipun anak autistik membutuhkan perlakuan khusus, usahakan jangan sampai menjadi pusat dari segalanya. Upaya yang dilakukan tidak boleh menyebabkan orang tua mengabaikan kebutuhan anak-anak lain dan pasangannya. Jadi perlu adanya keseimbangan seluruh anggota keluarga.

Kunci keberhasilan penyembuhan gejala autisme adalah orang tua dan terapi tatalaksana perilaku. Tidak cukup dan tidak akan berhasil jika kita hanya tergantung pada ahli terapi saja. Orang tua pun harus terjun. Maka, saat yang paling baik melakukan terapi adalah sedini mungkin sebelum usia 5 tahun, karena masa ini pertumbuhan dan perubahan berjalan sangat pesat, baik fisik maupun psikis (Hurlock, 2002:76).

Terapi tatalaksana

Menurut psikiater anak – baik yang tergabung dalam Yayasan Autisme Indonesia yang berkedudukan di Jakarta maupun di RSUD dr Soetomo Surabaya – autisme dapat dikurangi kelemahannya. Sedangkan menurut Dr. Rudy Sutadi walaupun tidak bisa disembuhkan 100 persen, tetapi penyandang autisme dapat dilatih melalui terapi sehingga ia bisa tumbuh normal. Alasannya karena penatalaksanaan terapi setelah usia 5 tahun hasilnya akan berjalan lebih lambat.

Pada anak autistik perlu diberi bantuan terapi okupasi untuk membantu menguatkan, memperbaiki koordinasi dan keterampilan ototnya. (Handojo, 2003:30). Beberapa program terapi penunjang bagi anak autisme, antara lain: Terapi Wicara, membantu anak melancarkan otot-otot mulut sehingga mambantu anak berbicara lebih baik. Terapi Okupasi, untuk melatih motorik halus anak. Terapi bermain, mengajarkan anak belajar sambil bermain (www.jurnal-kopertisa.com). Terapi Medikamentosa, pemberian obat-obatan oleh dokter berwenang (www.dikdasmen-depdiknas.com). Terapi makanan (Diet Therapy), untuk anak-anak dengan masalah alergi makanan tertentu.

Menurut Rudy Sutadi, anak autistik harus diet susu sapi karena mengandung protein kasein dan terigu yang mengandung protein gluten. Tubuh anak autistik tidak bisa mencerna kasein dan gluten secara sempurna. Uraian senyawa yang tidak sempurna masuk ke pembuluh darah dan sampai ke otak sebagai morfin. Ini terbukti dengan ditemukannya kandungan morfin yang bercirikan kasein dan gluten pada tes urine anak autistik. Keberadaan morfin jelas akan mempengaruhi kerja otak dan pusat-pusat saraf sehingga anak berperilaku aneh dan sulit berinteraksi.

Peluang anak autistik untuk “normal” kembali cukup besar, karenanya orang tua harus selalu optimis. Jangan sampai terjadi seorang anak yang memiliki peluang untuk “normal” menjadi hilang hanya disebabkan pilihan orang tua yang salah dalam menentukan metoda dan intensitas terapinya. Penting diingat, kondisi anak sangat berbeda sehingga modal awal dan hasil akhir sangat tergantung pada kuantitas dan kualitas gejala autisme. Di antaranya intensitas penanganan dini, tingkat intelegensi anak, kemampuan komunikasi, bersosial, berperilaku, konsisten pola asuh keluarganya, lingkungan sekolah dan masyarakat dalam membantu anak tersebut. Wallahua’lam Bishshsawwab

Kategori:Artikel
  1. rini
    Mei 10, 2009 pukul 4:12 am

    mbak, tolong carikan makalah tentang autisme yang ada pendahuluan, isi makalah, pembahasan, kesimpulan dan saran, serta daftar pustaka thanks

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: