Beranda > Artikel > Menciptakan Sekolah Rumah bagi Anak

Menciptakan Sekolah Rumah bagi Anak


Oleh SITTA R MUSLIMAH

Pendidikan terhadap anak sejatinya berlangsung sepanjang masa (long live education). Dengan demikian, seorang anak akan merasakan ketenangan dan ketentraman ketika mengarungi hidup ini. Dalam mewujudkannya adalah dengan memasukkan mereka ke sekolah. Baik sekolah formal maupun informal, sehingga memengaruhi karakter, kepribadian, wawasan, life skill dan sikap hidup anak di masa mendatang.

Di tengah tren sekolah rumah (home schooling) yang kian menjamur, menjadi keniscayaan bagi seorang ibu untuk menambah wawasan seputar pendidikan anaknya. Kalaupun sang anak tidak menggunakan pendidikan rumah ini atau sekolah di lembaga formal, tetap saja peran ibu sangat diperlukan. Mendidik dan membimbing anak bagi seorang ibu merupakan misi kebangsaan dan keagamaan yang harus dijalankan sebaik-baiknya.

Kebaikan sikap, pengetahuan yang luas, dan kebijaksanaan seorang anak ditentukan lingkungan terdekat. Karena kebanyakan ibu di Indonesia bekerja di seputar pekerjaan rumah, maka yang paling dekat dengan anak adalah ibu. Ibu adalah lingkungan pertama yang menentukan kultur, psikologi, keberagamaan, interaksi sosial dan wawasan-pengetahuan anak.

Lantas, bagaimana caranya kita (ibu) membekali diri agar memiliki kemampuan mumpuni dalam mendukung proses belajar anak sehingga mereka menjadi anak yang mandiri, sehat, ulet, bijaksana, berketerampilan dan berpikiran luas atau tidak sempit? Kemampuan mumpuni dalam mendidik anak-anak, bisa diperoleh dari berbagai sumber. Dari mulai menghadiri seminar, workshop, dan pelatihan bagi ibu-ibu, sampai mengakses informasi dari internet, buku, majalah, Koran, dan media lainnya. Dengan begini, selain wawasan yang cukup tentang dunia anak, kita dapat juga mempraktikkannya di rumah.

Tetapi, bagi masyarakat kampung hal itu tidak akan diperoleh. Salah satu caranya adalah menghidupkan kembali PKK dalam melakukan penyuluhan tentang kesehatan, perkembangan psikologis, dan dunia anak kepada masyarakat di setiap kampung. Diharapkan kesenjangan mengakses pengetahuan seputar dunia anak tidak akan terjadi. Penyuluhan yang dilakaukan PKK juga tidak hanya seputar aspek kesehatan fisik anak saja, tetapi harus mengarah pada perkembangan psikologis yang tidak mengebiri kreativitas anak. Menyusun buku panduan yang berkaitan dengan pendidikan anak bagi ibu-ibu rumah tangga juga, bisa menjadi solusi memenuhi kesenjangan pengetahuan.

Maka, diharapkan ke depan, pihak pemerintah memerhatikan kesadaran dan pemahaman ibu dalam mendidik anak-anaknya. Ini dilakukan agar tercipta generasi yang dapat memajukan Negara Indonesia. Dan, untuk mewujudkannya kita harus bekerja sama (pemerintah, LSM, masyarakat) memberikan pemahaman kepada ibu-ibu dalam mendidik anak, sehingga mereka mumpuni. Disamping mendapatkan pengajaran teoritis di sekolah, mereka juga akan mendapatkan pendidikan sepanjang hayat dari seorang ibu, karena ibunya memiliki kemampuan mumpuni.

Elias Situmorang dalam artikel, Menyelami Keibuan (Kompas, 22/10/2008) menulis ibu sejati adalah yang mampu membimbing anak-anaknya memaknai hidup, ibarat matahari yang menyinari tanpa berharap menerima kembali. Seraya mengutip pendapat Erich Fromm, Elias Situmorang, mengatakan cinta ibu bagaikan susu dan madu. Susu memberi daya hidup bagi anak, sementara madu diartikan cinta yang memberi keindahan serta kemanisan hidup agar jalan hidup dapat dijalani secara bersemangat dan bergairah.

Saya memahami, susu dan madu adalah memberikan pendidikan yang intensif kepada anak, yang tidak diperoleh di sekolah. Misalnya, seorang anak diarahkan agar mampu bertahan lama mengenyam pendidikan untuk meraih cita-citanya. Selain itu, seorang ibu juga semestinya menjaga kesehatan fisik anak dengan memberikan makanan yang memenuhi kriteria empat sehat lima sempurna (baca: bergizi). Keberhasilan negeri Sakura, Jepang, terletak pada kualitas pendidikan rumah yang dilakukan oleh para ibu rumah tangga.

Dengan pendidikan yang dilakukan mereka, setiap anak di Jepang diberikan pendidikan dan bimbingan yang tidak mematikan kreativitas anak. Tambahlah wawasan seputar kesehatan, psikologis, dan pengetahuan minat anak. Setelah itu, jadilah ibu yang berposisi sebagai lembaga pendidikan bagi anaknya. Insya Allah, bangsa ini di masa depan akan unggul secara kualitas, sehingga sejajar dengan Negara adidaya. Amiin!

Kategori:Artikel
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: