Beranda > Artikel > Puasa dan Pendidikan Moral Anak

Puasa dan Pendidikan Moral Anak


Sumber Kompas, Kamis, 11 September 2008 | 16:06 WIB

Saat ini Muslim Indonesia yang menginjak usia dewasa dan sehat walafiat diwajibkan melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh. Adapun bagi anak-anak yang belum akil balig, ibadah ini tidak wajib dilaksanakan kecuali bagi keluarga yang ingin menanamkan nilai moral dalam diri anak. Dengan membiasakan puasa pada bulan Ramadhan, orangtua mengharapkan anaknya menjadi manusia yang jujur, disiplin, dan peduli terhadap orang di sekitar.

Tujuan mereka memang baik. Akan tetapi, ketika pelaksanaan ibadah puasa diperintahkan secara keras, hal itu akan berakibat buruk bagi perkembangan moral anak. Anak-anak ketika dipaksa orangtua untuk menyelesaikan puasa sehari penuh, kendati tidak kuat, tentu akan berusaha membohongi orangtua. Mereka berpura-pura puasa di depan orangtua, sedangkan ketika di hadapan mereka tidak ada orang yang melihat biasanya mereka berbuka.

Dalam tradisi masyarakat Islam Sunda mungkin kita pernah mendengar orangtua dulu menyebutnya sebagai puasa ayakan. Di hadapan orang banyak mereka mengaku puasa, tetapi pada kenyataannya segala yang ada di hadapan dimakan ketika tidak ada yang memerhatikan. Hal inilah yang membahayakan masa depan anak. Ketidakjujuran akan terus menggelayuti pribadi anak sehingga berakibat pada lahirnya laku amoral pada masa mendatang ketika mereka menjabat sebagai pemimpin di sebuah instansi.

Puasa seharusnya bisa memberikan ajaran tentang kejujuran, kedisiplinan, kepedulian, kesopansantunan, perilaku hemat, keberanian, dan sikap hidup demokratis dalam diri anak. Dengan memaksa mereka menjalankan puasa sehari penuh, hal itu akan berbalik seratus delapan puluh derajat. Apabila ibadah puasa dipaksakan tanpa melihat kondisi jiwa dan fisik anak, tentu ajaran moral seperti itu tidak akan membekas dalam kepribadian anak.

Nasib anak negeri

Menurut guru besar perkembangan anak, Irwanto, pembangunan manusia modern memunculkan paradoks tentang anak. Mereka diakui sebagai masa depan kemanusiaan, tetapi sekaligus menjadi kelompok penduduk paling rentan didiskriminasi, diabaikan, dan dikorbankan dalam proses pembangunan. Ia mengatakan, kualitas hidup anak tidak dapat diserahkan kepada orangtua dan komunitasnya karena negara juga berkepentingan memiliki generasi penerus berkualitas (Kompas, Sabtu, 2/8/2008).

Memang betul bahwa anak di negeri ini tidak mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah. Kita, berkat utang luar negeri, rela menghabiskan anggaran untuk membayarnya daripada melakukan pemberdayaan generasi penerus melalui pendidikan berkualitas terhadap anak-anak. Oleh karena itu, saya setuju dengan pendapat Irwanto yang menyadarkan kita untuk mendidik anak secara konvensional. Sebab, pemerintah belum bisa menjamin masa depan mereka, terutama kualitas moral anak-anak Indonesia ke depan.

Saya pikir, ketika pemerintah tidak atau belum dirasa memenuhi keinginan setiap keluarga untuk melahirkan generasi berkualitas, tidak salah untuk melakukan pendidikan secara mandiri. Pada bulan Ramadhan, saat ada kewajiban berpuasa, adalah momen tepat untuk menanamkan moralitas kepada mereka. Sebab, dalam puasa ada pesan moral yang mampu membentuk seorang anak menjadi manusia sopan, disiplin, jujur, berani, dan peduli ketika berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Kelak, ketika mereka telah terbiasa melakukan puasa-kalau puasanya tulus dan ikhlas-pembangunan bangsa yang paradoks itu bisa diubah ke arah yang lebih memihak anak-anak. Mengajak berpuasa

Maka, ajakan berpuasa kepada anak harus mengasyikkan dan tidak membebani. Kendati anak tidak diwajibkan berpuasa, untuk membentuk keluhungan pribadinya tidak salah mengajak mereka berpuasa. Akan tetapi, hal itu harus disesuaikan dengan takaran kemampuan fisik dan psikis anak. Satu cara agar mereka bisa melaksanakan ibadah puasa adalah membatasi waktu berbuka bagi mereka secara bertahap.

Dalam satu hari, misalnya, mereka dibebaskan untuk berpuasa sampai pukul 12.00 dan pada hari lain bisa lebih panjang waktunya daripada hari-hari sebelumnya. Sebagai orangtua, kita juga mesti mengetahui perkembangan usia anak. Dengan demikian, kita dapat mengetahui batas waktu berbuka bagi anak-anak kita sehingga takaran berpuasa bagi mereka diketahui secara tepat. Untuk mengetahui seberapa kuat ketahanan fisik mereka, kita bisa menggali informasi dari buku, majalah anak, koran, dan internet.

Pengetahuan tentang karakteristik fisik dan psikis anak itu akan menjadi bekal bagi pembiasaan puasa sehingga ke depan mereka bertahap menunaikan kewajiban sebagai umat Islam. Misalnya, bagi anak usia 5-7 tahun, puasa tidak bisa dipaksakan harus tamat selama sebulan penuh. Bagi mereka, ada keinginan untuk berpuasa saja sudah merupakan keberhasilan menanamkan kesadaran beragama. Jadi, tidak arif rasanya apabila mereka dibebani harus selesai sampai akhir (maghrib) dan menamatkan puasa selama sebulan penuh.

Agar mereka bersemangat dalam berpuasa, dianjurkan untuk memberikan hadiah yang berfungsi menumbuhkan kesadaran beragama sejak usia dini. Di samping itu, memberikan penjelasan seputar keutamaan puasa juga bisa menggugah mereka untuk menunaikan puasa. Caranya bisa dengan membacakan kisah-kisah teladan nabi, sahabat, dan tokoh yang berjasa bagi agama dan negara. Selain itu, mereka juga bisa diajak menghadiri pengajian khusus untuk anak-anak.

Kalau mereka mendapatkan bimbingan intensif seputar nilai-nilai kebaikan puasa, secara tidak langsung kesadaran agama mereka akan meningkat. Hal ini akan melahirkan kekuatan dalam diri mereka untuk menyelesaikan ibadah puasa sampai maghrib. Maka, yang terpenting dalam menanamkan moral dalam diri anak adalah ajakan berpuasa dilakukan tanpa pemaksaan. Utamanya, jangan menggunakan kekerasan yang akan mengakibatkan mereka merasa tertekan dan terbebani dengan praktik puasa. Ini akan memunculkan kepribadian paradoks, oportunis, atau munafik pada masa dewasa nanti.

Kita tahu bahwa dalam perspektif fikih tidak ada beban kewajiban berpuasa bagi anak-anak dan pemaksaan dalam ajaran Islam adalah sesuatu yang dilarang Tuhan (la iqraha fi al-din). Ketika mereka telah dibiasakan berpuasa sejak dini, saat dewasa nanti mereka akan melaksanakan ibadah puasa secara tulus dan ikhlas. Hasilnya, semoga dapat terbentuk moral yang mulia (al-akhlaq al-karimah) dalam diri mereka. Wallahualam.

SITTA R MUSLIMAH Pemerhati Masalah Perkembangan Anak, Tinggal di Bandung

Kategori:Artikel
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: