Beranda > Artikel > Asah Empati Sosial Anak Prasekolah

Asah Empati Sosial Anak Prasekolah


Oleh SITTA R MUSLIMAH

Kekerasan, bunuh diri, konflik antarpemuda, dan praktik korupsi di birokrasi adalah aktualisasi dari bangsa yang miskin empati atau tidak punya kepekaan terhadap orang lain. Ini merupakan tampa ran keras bagi lembaga pendidikan untuk membenahi ketidakberhasilan menanamkan kebersamaan pada setiap anak didiknya.
Kasus bunuh diri, umpamanya, mengindikasikan bahwa kebanyakan masyarakat kita telah menanggalkan solidaritas sosial dan bukti nyata dari ketidakpedulian lembaga pemerintah terhadap rakyat miskin. Akar penyebab munculnya kasus bunuh diri terletak pada tumpulnya implementasi untuk saling asah, saling asih, dan saling asuh pada masyarakat modern yang cenderung ind ividualistik.
Oleh sebab itu, menciptakan generasi yang memiliki kepekaan sosial yang kokoh, tangguh dan kuat dalam jiwanya adalah misi utama dari lembaga pendidikan prasekolah. Sebab, lembaga ini bagaikan adonan yang menentukan kualitas rasa dari sebuah produk makanan. Dalam merealisasikan misi ideal  tersebut, diperlukan sebuah lembaga pendidikan yang sejak dini mendidik anak-anak untuk peka terhadap kondisi sekitar. Tujuannya guna menciptakan kepekaan diri secara permanen ketika kelak disekitarnya ada oran g yang membutuhkan pertolongan.
Maka, lembaga pendidikan prasekolah mestinya menerapkan model pembelajaran moral dengan bentuk metode yang mengasyikkan sesuai dengan perkembangan jiwa anak-anak. Misalnya, memanfaatkan media permainan yang tidak hanya mengasah kecerdasan intelektual saja, tetapi dapat juga mengasah kecerdasan sosial anak sejak dini.
Permainan kooferatif
Prinsip bermain sambil belajar sangat berpengaruh pada perkembangan anak usia prasekolah. Untuk itu, permainan yang melibatkan anak-anak secara kolektif adalah sebuah keniscayaan untuk menguatkan kecerdasan bersosial. Ketika mereka telah terbiasa dengan permainan yang dilakukan bersama-sama, tentunya akan berimplikasi positif terhadap perkembangan psikososial anak.
Untuk menciptakan sebuah kondisi psikologi sosial yang bagus pada anak usia dini, Taman Kanak-kanak (TK) atau Playgroup mestinya mengikuti prinsip bermain kooferatif. Suatu kegiatan bermain yang dilakukan anak-anak secara berkelompok dan didalamnya terjadi interaksi sosial yang kuat. Dari sinilah, seorang anak akan belajar menghargai dan mengakui eksistensi anak-anak sepermainan lainnya. Mereka akan memiliki solidaritas sosial yang kuat ketika menginjak usia dewasa nanti karena telah membiasakan diri untuk berinteraksi secara harmonis melalui kegiatan bermain bersama.
Di dalam permainan kooferatif juga seorang anak mestinya diajarkan untuk tidak sekali-kali merendahkan oran g lain. Jika saja mereka masih berbuat demikian, tentu saja masa dewasanya akan dipenuhi oleh tindakan yang mementingkan diri sendiri. Mungkin juga ketika di masa mendatang mereka menjadi pemimpin di sebuah instansi pemerintahan, akan melakukan praktik kejahatan (korup) karena miskinnya rasa empati.
Oleh sebab itu, lembaga pendidikan prasekolah – dalam hal ini TK dan Playgroup – dianjurkan untuk memberikan pembelajaran moral secara atraktif dan mengasyikkan sehingga membekas dikedalaman rasa. Misalnya, dengan cara membangun rumah-rumahan bersama, menyusun balok-balok hingga membentuk sebuah bangunan, mengekspresikan bahasa cinta-kasih kepada temannya, bernyanyi bersama dan lain sebagainya. Dengan permainan kooferatif seperti ini, nis caya benih-benih kebersamaan atas nasib orang lain akan tumbuh dalam jiwanya sehingga membentuk karakter positif di masa mendatang.
Model pembelajaran  mengasyikkan
Kita mestinya tahu bahwa masa usia 4-6 tahun adalah masa untuk bermain dan bercanda ria. Maka, untuk menanamkan rasa empatik pada anak usia dini, bijaksana rasanya jika menggunakan metode pembelajaran yang mendidik dan menghibur. Pokoknya harus sesuai dengan karakter psikologis seorang anak yang menyukai permainan. Alhasil, nilai-nilai sosial (untuk merasakan penderitaan sesama ) ketika masa usia dewasa tiba akan menguat, mengkarakter, dan mempribadi dalam kehiduapn sehari-hari.
Sebetulnya perkembangan anak-anak usia prasekolah dipengaruhi oleh apa yang dimainkannya semenjak kecil. Bermain juga merupakan salah satu kegiatan yang dapat menstimulasi perkembangan kognitif, psikososial, psikomotorik, dan model komunikasi yang positif. Jadi, jelas sudah bahwa model pembelajaran yang diberikan kepada anak usia dini (prasekolah) mesti berpijak pada prinsip bermain dan mendidik.
Mengasingkan anak-anak dari dunia sosial yang mengasyikkan adalah kesalahan pertama yang akan berdampak pada melemahnya rasa berempati dalam dirinya. Tidaklah heran jika setelah usianya menginjak remaja atau dewasa, mereka tidak peka terhadap persoalan yang sedang dihadapi oran g lain. Ketika kondisinya terjadi seperti ini, saya kira pantas betul jika negara ini disebut dengan negara yang “kehilangan generasi”.
Kesimpulan dari tulisan ini, andai saja dalam diri masyarakat dan pemerintah tertancap kuat kepekaan terhadap sesama, kasus bunuh diri, kekerasan fisik, konflik antarpemuda dan korupsi di masa mendatang dapat dihindari. Maka, tempat bertumpunya segala pengharapan ini terletak di pundak anak-anak usia prasekolah. Oleh karena itu, mengasah kepekaan atau empati  dalam dirinya adalah keniscayaan. Tentu saja, caranya dengan menggunakan permainan yang atraktif, mengasyikkan, menghibur dan tidak menjenuhkan.
Kategori:Artikel
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: