Beranda > Artikel > Mewaspadai Jajanan di Sekolah

Mewaspadai Jajanan di Sekolah


Keresahan orangtua yang memiliki anak usia sekolah semakin besar. Sebab, hampir di tiap sekolah tersaji aneka jajanan yang menggunakan bahan pengawet atau zat kimiawi. Dengan kondisi ini, kewaspadaan orangtua dan pihak sekolah terhadap persebaran jajanan berbahaya harus diupayakan. Demi kesehatan buah hati, diperlukan kerja sama antara orangtua dan pihak sekolah dalam meredam keinginan anak untuk mengonsumsi jajanan yang tidak sehat.

Contohnya ialah menggagas makan siang bersama yang dibawa dari rumah (Sunda: timbel) oleh siswa-siswi. Kegiatan ini harus rutin dilaksanakan setiap hari atau bisa juga pada hari-hari tertentu saja, seperti Senin, Rabu, dan Jumat. Namun, menurut penulis, lebih baik kegiatan ini diprogramkan setiap hari. Di samping untuk menghemat keuangan keluarga, dengan memenuhi syarat empat sehat lima sempurna, buah hati kita akan terjaga kesehatannya.

Pertanyaannya, bagaimanakah bentuk solusi praktis bagi permasalahan ini sehingga dapat tertanggulangi oleh stakeholders (pemangku kepentingan) di lingkungan sekolah? Lantas, bagaimana dengan tanggung jawab para pendidik beserta orangtua dalam menjaga anaknya dari serangan penyakit akibat persebaran zat kimiawi yang terkandung di dalam setiap jajanan? Hati-hati

Biasanya di kalangan siswa-siswi sekolah, terutama untuk tingkat SD, waktu istirahat kerap digunakan untuk membeli jajanan yang dijajakan pedagang kecil di sekitar sekolah. Kalau saja diasumsikan 40 persen dalam setiap jajanan yang tersebar mengandung zat kimiawi, kesehatan anak-anak terancam bagai sebutir telur di ujung tanduk. Apalagi, kebiasaan anak-anak usia SD, misalnya, cenderung konsumtif dan tidak hati-hati ketika membelanjakan uang yang diberikan orangtua.

Maka, untuk memerangi perilaku konsumtif, orangtua dan guru di sekolah mestinya cerdik dan cerdas menciptakan jajanan yang bebas dari unsur-unsur zat kimiawi. Misalnya, orangtua membekali anaknya dengan makanan atau jajanan hasil olahan sendiri. Bisa juga pihak sekolah menyediakan makanan kecil yang dibagikan kepada siswa setiap waktu istirahat tiba. Kegiatan ini dilakukan jika para pedagang masih menggunakan bahan kimia dalam jajanan setelah ada sosialisasi larangan menjajakan dagangan yang menyertakan bahan pengawet, pemanis, dan pewarna melebihi batas normal dalam komposisinya.

Secara psikologis, dalam perspektif Syamsu Yusuf LN (2002), seorang anak memiliki karakter perkembangan jiwa dari outer control to inner control, yakni dari seorang anak yang sangat membutuhkan pengawasan dari luar untuk mengontrol diriya (outer control) menuju seorang anak yang dapat mengembangkan kemampuan sendiri dalam mengontrol dirinya (inner control). Misalnya, buah hati kita masih harus diawasi dalam mengeluarkan uang untuk membeli jajanan. Setelah itu, ia akan mampu mengambil keputusan sendiri untuk tidak terlalu konsumtif karena menyadari secara penuh bahwa kesehatan tubuh sangatlah penting.

Di lingkungan sekolah pun begitu. Tanpa ada upaya penyadaran atas jajanan berbahaya, boleh jadi mereka tidak akan hati-hati terhadap segala jenis makanan kecil. Seorang ibu atau guru yang baik akan terus memerhatikan apa yang dikonsumsi anak didiknya. Dalam bahasa agama juga dijelaskan bahwa kita diperintahkan untuk mengonsumsi makanan yang halal dan tayibah. Artinya, kita dianjurkan untuk terus berhati-hati atas apa yang kita makan serta harus memenuhi kriteria halal dan baik. Mungkin kalau dianalogikan, makanan harus memenuhi syarat empat sehat lima sempurna serta dihasilkan dengan cara yang tertera dalam tata aturan agama. Menjembatani keterpurukan

Permasalahan ini juga tidak hanya bersangkut paut dengan kesehatan anak-anak, tetapi juga sampai pada mengakibatkan keterpurukan sektor ekonomi para pedagang yang mengais rezeki dari berjualan di lingkungan sekolah. Bagi pedagang jajanan, keberadaan sekolah merupakan tempat bermuaranya berkah atau semacam lapangan kerja yang bebas dari unsur suap-menyuap. Hanya dengan berbekal kemauan dan tekad yang kuat, tanpa pungutan liar, mereka bersemangat mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Andai saja sumber mata pencarian mereka diterjang pemboikotan, boleh jadi kemiskinan akan mendera. Oleh karena itu, arif rasanya jika stakeholders di lingkungan sekolah memerhatikan mereka dengan melakukan kerja sama yang bisa menyelamatkan ranah kesehatan anak-anak di satu sisi dan perekonomian para pedagang dari jurang degradasi ekonomi di lain sisi.

Pertemuan berkala dengan para pedagang di sekitar sekolah, misalnya, bisa dilakukan untuk menyosialisasikan bahaya zat kimiawi bagi pertumbuhan anak. Mereka akan menyadari bahwa perilaku mencampur aduk jajanan dengan zat kimia dapat mengakibatkan terganggunya kesehatan pembeli. Sementara itu, untuk memperkuat terjaminnya kesehatan dan kebersihan jajanan, pihak sekolah dapat bekerja sama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk mengawasi persebaran jajanan yang berbahaya.

Bahkan, pihak sekolah juga bisa memeriksakan sampel jajanan kepada lembaga tersebut dan menegur pedagang yang kepergok menggunakan zat kimiawi dalam komposisi pembuatan produknya. Alhasil, persebaran jajanan berbahaya di sekitar sekolah bisa ditanggulangi, diminimalisasi, bahkan ditekan pada posisi teraman. Selain itu, pedagang tidak merasa dirugikan karena lapangan kerja, yang sangat sulit diperoleh pada era reformasi ini, tidak terancam penggusuran.

Akhirnya, waspada atau berhati-hati terhadap jajanan di lingkungan sekolah merupakan usaha preventif dalam menjaga keselamatan buah hati kita dari ancaman zat berbahaya atomistik yang bisa merenggut kesehatan tubuhnya. Semoga saja kita lebih banyak memberikan kasih sayang nan hangat kepada buah hati kita, diawali dengan menjaga kebersihan jajanannya. Sebab, anak merupakan titip-an, generasi masa depan, dan amanah dari Tuhan. Wallahualam.

SITTA R MUSLIMAH Pemerhati Masalah Perkembangan Anak, Tinggal di Bandung

Artikel ini dipublikasikan Kompas Jawa Barat, Kami, 12 Juli 2007

 
 
Kategori:Artikel
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: