Kenakalan Anak Bukan Kriminalitas

Agustus 20, 2010 1 komentar

Oleh SITTA R MUSLIMAH

Hukum di negeri kita seolah diberlakukan secara tidak adil dan tidak tepat sasaran. Banyak kasus ketidakadilan hukum menimpa kaum lemah, warga terpinggir, bahkan anak-anak usia dini. Kasus anak-anak nakal yang berkelahi, berjudi, dan menjambret diponis bersalah kendati baru berusia 9 tahun. Beberapa bulan ke belakang negeri ini dihebohkan kasus beberapa anak siswa SD yang mengisi waktu luang dengan melakukan taruhan dengan jumlah yang tak seberapa.
Baca selanjutnya…

Kategori:Artikel

Merespon Perilaku Anak Autistik

Oktober 18, 2009 1 komentar

Oleh SITTA R MUSLIMAH

Perilaku adalah sesuatu yang dilakukan, dikatakan, dilihat, dirasakan, dan didengar sebagai rangkaian aktivitas seseorang. Perilaku tentunya dapat diukur dengan mengetahui frekuensi, durasi, intensitas dan apa yang dihasilkannya. Pun demikian, ketika kita ingin mengarahkan perilaku anak autistik ke arah yang sesuai dengan instruksi edukatif. Perilaku malas mengerjakan tugas-tugas sekolah – bagi anak yang masuk ke sekolah inklusi – dapat diarahkan kalau respon terhadap perilaku itu tepat. Baca selanjutnya…

Kategori:Artikel

Terapi ABA Anak Autistik

April 3, 2009 3 komentar

Oleh SITTA R MUSLIMAH
(Artikel ini dimuat di Kompas Jabar)

Terapi Applied Behavior Analysis atau ABA sering digunakan untuk penanganan anak autistik. Terapi ini sangat representatif bagi penanggulangan anak spesial dengan gejala autisme. Sebab, memiliki prinsip yang terukur, terarah dan sistematis; juga variasi yang diajarkan luas; sehingga dapat meningkatkan keterampilan komunikasi, sosial dan motorik halus maupun kasar. Terapi ABA adalah metode tatalaksana perilaku yang berkembang sejak puluhan tahun, ditemukan psikolog Amerika, Universitas California Los Angeles, Amerika Serikat, Ivar O. Lovaas (Handojo, 2003:50). Baca selanjutnya…

Kategori:Artikel

Partisipasi Keluarga untuk Anak Autistik

Februari 24, 2009 1 komentar

Oleh SITTA R MUSLIMAH

Kehadiran anak autistik di dalam keluarga menyebabkan perubahan yang cukup besar dalam berbagai aspek kehidupan. Orang tua harus memberikan perhatian yang jauh lebih besar kepadanya secara spesial. Interaksi dan disiplin yang diterapkan harus disesuaikan dengan karakter anak autistik. Dalam kehidupan sehari-hari saudara sekandung mestinya menyesuaikan diri dengan adik/kakaknya yang autis seperti interaksi, komunikasi, kegiatan rekreasi, makanan yang dikonsumsi, dan sebagainya. Baca selanjutnya…

Kategori:Artikel

Menciptakan Sekolah Rumah bagi Anak


Oleh SITTA R MUSLIMAH

Pendidikan terhadap anak sejatinya berlangsung sepanjang masa (long live education). Dengan demikian, seorang anak akan merasakan ketenangan dan ketentraman ketika mengarungi hidup ini. Dalam mewujudkannya adalah dengan memasukkan mereka ke sekolah. Baik sekolah formal maupun informal, sehingga memengaruhi karakter, kepribadian, wawasan, life skill dan sikap hidup anak di masa mendatang. Baca selanjutnya…

Kategori:Artikel

Menumbuhkan Minat Baca Anak

Desember 2, 2008 2 komentar

Oleh SITTA R MUSLIMAH

Artikel dimuat Kompas jabar, 20 November 2008

Kegiatan membaca adalah salah satu faktor penentu kecerdasan seseorang. Dengan rajin membaca, seseorang akan memperoleh ilmu dan wawasan, sehingga dirinya dapat mengembangkan potensi ke arah yang positif. Maka, kegiatan bertajuk Hari Kunjungan Perpustakaan, saya pikir adalah jalan menuju tersedianya “library for all”, yang membutuhkan dukungan kalangan pendidik agar menumbuhkan minat baca dalam diri peserta didiknya (anak-anak). Baca selanjutnya…

Kategori:Artikel

Anak-anak dan Kekerasan

Oktober 30, 2008 2 komentar

KOmpas Jawa Barat, Kamis, 30 Oktober 2008

Oleh Sitta R Muslimah

Rentang masa perkembangan anak semestinya dipenuhi kegembiraan sehingga berpengaruh positif bagi jiwanya. Akan tetapi, kecemasan dan ketakutan anak sekarang hadir di mana-mana: di sekolah, di jalanan, bahkan di rumah yang dihuni orangtuanya sekalipun. Kak Seto, dalam suatu kesempatan, pernah mengklaim bahwa kekerasan terhadap anak yang dilakukan orangtua mencapai angka 80 persen.

Saya pikir, ketika anak akrab dengan kekerasan, ancaman kehilangan jati diri, kepercayaan, dan kemandirian dalam dirinya akan menghilang. Maka, menciptakan lingkungan yang menenteramkan anak adalah keniscayaan yang tak bisa ditawar-tawar. Sebab, tanpa situasi tenteram dan tenang, anak akan merasa tertekan sehingga berakibat pada terganggunya perkembangan jiwa. Baca selanjutnya…

Kategori:Artikel